0

Ekonomi Pembangunan

Ekonomi Pembangunan

EKONOMI PEMBANGUNAN
PENYUNTING : SUDJILAH, DRA., SE., ME.,Dr
MARET 2010

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Ekonomi pembangunan bukan merupakan ilmu yang baru karena pada dasarnya ekonomi pembangunan ini bangkit kembali dari tidur lelapnya. Memang selama ini bidang yang satu ini agak terabaikan dengan beberapa alasan diantaranya :
1.    Beberapa negara berkembang sebelum PD II adalah merupakan daerah jajahan, sehingga para penjajah beranggapan untuk tidak perlu memperhatikan perkembangan daerah penjajahannya.
2.    Kurangnya usaha para pemimpin masyarakat yang dijajah untuk membahas masalah-masalah pembangunan ekonomi. Mereka memiliki dasar pembenar bahwa pembangunan ekonomi bisa dilakukan bila penjajahan berakhir.
3.    Di lingkungan ekonomi, penelitian dan analisis mengenai masalah pembangunan ekonomi masih terbatas. pada era tersebut, para ekonom barat memusatkan perhatiannya pada bagaimana mengatasi masalah kemelesetan ekonomi dan pengangguran karena pada dekade awal abad 20,  depresi dan pengangguran merupakan masalah yang utama.

Kondisi demikian mulai berubah pasca PD II. Segenap perhatian terhadap pembangunan ekonomi mulai tercurah dengan pesat. Hal ini didasari oleh beberapa alasan, yaitu :
1.    Kemauan dan keinginan dari negara-negara bekas jajahan untuk mengejar ketertinggal mereka dengan negara-negara bekas penjajahnya. misalnya Indonesia, India, Pakistan, Korea. negara-negara tersebut relatif miskin dan menghadapi masalah kependudukan yang sangat serius.
2.    Berkembangnya perhatian negara-negara maju terhadap Negara Sedang Berkembang dengan alasan kemanusiaan sehingga mereka bersedia untuk membantu proses pembangunan di NSB. (alasan ekonomi)
3.    Alasan yang lain adalah untuk memperoleh dukungan dalam perang ideologi antara Blok Barat dengan Blok Timur. (alasan politis).

2. Ruang Lingkup Ekonomi Pembangunan
Ada beberapa cakupan bahasan dalam Ekonomi Pembangunan diantaranya adalah :
1.    Pertumbuhan Ekonomi,
2.    Kemiskinan,
3.    Pembentukan Modal,
4.    Pengerahan Tabungan Dan
5.    Bantuan Luar Negeri.
Memang dalam perkembangannya terjadi banyak pro dan kontra mengenai topik yang menjadi bahasan dalam ekoomi pembangunan, hal ini dipicu oleh miskinnya teori-teori pendukung yang dapat menciptakan kerangka dasar yang berlaku secara generik dalam memberikan gambaran mengenai proses pembangunan ekonomi. Meski demikian bukan berarti bahwa pola analisis ekonomi tidak dapat dijamah sama sekali. karena itu pada hakekatnya pembahasan dalam ekonomi pembangunan dapat dimasukkan dalam dua kelompok.
Kelompok pertama, adalah pembahasan mengenai pembangunan ekonomi baik yang deskriptif maupun analistis yang memberikan gambaran tentang berbagai sifat perekonomian dan masyarakat di NSB serta implikasi sifat-sifat tersebut untuk pembangunan ekonomi di kawasan yang bersangkutan.
Kelompok kedua bersifat memberikan berbagai pilihan kebijaksanaan pembangunan yang dapat dilaksanakan dalam upaya untuk mempercepat proses pembangunan di NSB.
Dengan uraian tersebut maka dapatlah dirumuskan bahwa, Ekonomi Pembangunan adalah suatu cabang dari ilmu ekonomi  yang menganalisis masalah-masalah yang dihadapi NSB dan mencari cara-cara untuk mengatasi masalah-masalah itu agar negara-negara tersebut dapat membangun ekonominya lebih cepat lagi (
Arsyad;1999:6).
Selain itu diartikan juga bahwa : Ilmu Ekonomi Pembangunan adalah ilmu yang memperlajari pembangunan ekonomi . (Hakim;2002:8).
Sedangkan yang dimaksudkan dengan Pembangunan Ekonomi , dikatakan ada atau terjadi jika Pendapatan Nasional riil sebuah negara berubah dari tingkat statis dan kemudian mampu bertumbuh dalam tingkat 5 sampai 7 persen atau lebih dalam kurun waktu yang panjang. Pengertian yang lain mengatakan bahwa Pembangunan Ekonomi dikatakan ada atau terjadi jika pendapatan nasional riil per kapita sebauah negara (diukur dalam GNP riil perkapita atau dalam GDP riil perkapita) berubah dari tingkat statis dan kemudian mampu tumbuh dalam tingkat 5 sampai 7 persen atau lebih dalam kurun waktu yang panjang.
Diakui bahwa memang masing-masing definisi tersebut mengandung banyak kelemahan, dan seiring dengan perkembangan jaman maka Pembangunan Ekonomi diartikan sebagai berikut : upaya penghapusan atau pengurangan tingkat kemiskinan, penanggulangan ketimpangan tingkat pendapatan antara penduduk, dan penyediaan lapangan kerja dalam konteks yang terus berkembang, serta upaya untuk mengatasi keterbatasan pola pikir dari masyarakat negara-negara berkembang.
Pengertian yang lain mengatakan bahwa Pembangunan Ekonomi bisa diartikan sebagai kegiatan-kegiatan yang dilakukan suatu negara untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan taraf hidup masyarakatnya.
Pembangunan Ekonomi pada umumnya didefinisikan sebagai suau proses yang menyebabkan kenaikan   pendapatan riil per kapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan. Kesimpulannya adalah bahwa dalam pembangunan ekonomi mengandung hal-hal sebagai berikut :
1.    Suatu proses yang berarti perubahan yang terjadi secara terus menerus.
2.    Usaha untuk menaikkan pendapatan perkapita
3.    Kenaikan pendapatan perkapita itu harus terus berlangsung dalam jangka panjang
4.    Perbaikan sistem kelembagaan di segala bidang (misalnya ekonomi, politik, hukum, sosial dan budaya). Sistem kelembagaan ini bisa ditinjau dari 2 aspek yaitu aspek perbaikan di bidang organisasi (institusi) dan perbaikan di bidang regulasi (baik legal formal maupun informal).
Konsep lainnya,   yang tidak kalah pentingnya dalam Ekonomi Pembangunan adalah Pertumbuhan Ekonomi. Konsep ini menekankan pada proses kenaikan GNP atau GDP tanpa memperhatikan kondisi pertumbuhan penduduk dan perubahan struktur ekonomi. dan teknik produksi baru juga harus ditingkatkan.

Pembentukan Modal Tetap Bruto
3. Persyaratan Dasar Pembangunan Ekonomi
Pembangunan ekonomi tidak dapat dicapai semata-mata dengan menyingkirkan hambatan yang menghalangi kemajuan ekonomi. Pendorong utama pertumbuhan ekonomi ialah: upaya untuk berhemat (ekonomis), peningkatan pengetahuan atau penerapannya dibidang produksi, dan peningkaan jumlah modal atau sumber lain perkepala.

Tiga konsep ini nampaknya bisa dibedakan tetapi tidak bisa dipisahkan. Untuk mencapai asa itulah beberapa persyaratan pembangunan diperlukan, yaitu:
1.    Atas dasar kekuatan sendiri maksudnya bahwa pertumbuhan harus bertumpu pada kekuatan sendiri. Kekuatan luar adalah sebagai pelengkap kekuatan nasional, membantu bukan menggantikan. Ketergantungan pada luar negeri hanya akan menguntungkan pemodal asing yang akan menguras sumber-sumber kekayaan alam dalam negeri saja.
2.    Menghilangkan ketidak sempurnaan pasar  ketidak sempurnaan pasar mengakibatkan immobilitas faktor dan menghambat ekspansi sektoral dan pembangunan. Untuk meniadakannya, maka lembaga sosio ekonomi yang ada harus diperbaiki dan diganti dengan yang lebih baik. Fasilitas kredit yang murah dan lebih luas harus disediakan bagi para petani, pedagang kecil dan usahawan dan pengetahuan mereka mengenai pasar dan teknik produksi harus ditingkatkan.
3.    Perubahan struktural  mengandung arti peralihan dari masyarakat tradisional menjadi ekonomi industri modern, yang mencakup peralihan lembaga, sikap sosial dan motivasi yang ada secara radikal, perubahan struktural semacam ini meyebabkan kesempatan kerja semakin banyak dan produktivitas meningkat serta penggunaan sumber daya baru dan teknologi juga akan semakin meningkat.
4.    Pembentukan modal Ada yang menyebutkan hal ini sebagai kunci utama pembangunan ekonomi. Proses pembentukan modal melewati tiga tahapan, yaitu (1) kenaikan volume tabungan nyata yang tergantung pada kemauan dan kemampuan menabung, (2) keberadaan lembaga kredit dan keuangan untuk menggalakkan dan menyalurkan tabungan agar dapat dialihkan menjadi dana yang dapat diinvestasikan, dan (3) penggunaan tabungan untuk tujuan investasi dalam barang-barang modal dalam perusahaan, pembentukan modal biasanya dibarengi dengan pembentukan keahlian karena keahlian berjalan seiring  dengan pembentukan modal.
5.    Kriteria investasi yang tepat  Kriteria investasi harus memenuhi persyaratan: penggunaan paling produktif, proyek diarahkan pada peningkatan manfaat buruh secara maksimum, diarahkan pada pemanfaatan bahan dalam negeri, pertumbuhan yang seimbang (menjamah semua ranah sektor perekonomian).
6.    Persyaratan sosio budaya  perbedaan tetap diakui ada tetapi jangan dijadikan wahana untuk saling  merugikan satu sama lain.
7.    Administrasi  menciptakan good government dan clean government, kebutuhan akan pemerintahan yang bersih dan berwibawa akan sangat mendukung pelaksanaan pembangunan ekonomi. Pemerintah harus memberikan layanan kepada masyarakat kapan saja dibutuhkan untuk mendorong pembangunan ekonomi, ketertiban, keadilan, pertahanan dan lain-lainnya.

5.    Evolusi Makna Pembangunan
Sejak semula yang membedakan negara maju dengan NSB adalah pendapatan rakyatnya. Dengan ditingkatkannya pendapatan perkapita diharapkan masalah-masalah seperti pengangguran, kemiskinan, dan ketimpangan distribusi pendapatan yang dihadapi NSB dapat terpecahkan, misalnya melalui apa yang dinamakan dengan “dampak merembes ke bawah” (trickle down effect) (Kuncoro;2000:7). Indikator keberhasilan pembangunan semata-mata dilihat dari meningkatnya GNP perkapita riil. Artinya kata kunci dalam pembangunan adalah pembentukan modal. Karena itu dikatakan bahwa akselerasi pembangunan yang dianggap paling tepat adalah dengan  mengundang pemodal asing dan melakukan industrialisasi.
Paradigm tersebut sejatinya diilhami oleh Pengalaman Negara-negara Eropa (eurocentrism) (Hettne, 1991 dalam Kuncoro;2000:8). Paham ini ditandai dengan munculnya kapitalisme, naiknya masyarakat borjuis sebagai kelas yang dominan, relative berhasilnya revolusi industry dan diperkenalkannya pertumbuhan sebagai ide perkembangan masyarakat. Mainstream Eropa diterjemahkan lebih lanjut oleh model Liberal, strategi kapitalis Negara, model soviet dan Keynesianisme. Model liberal mendasarkan diri pada berlangsungnya mekanisme pasar, industrialsiasi yang bertahap dan perkembangan teknologi, kapitalis merupakan reaksi dari paradigm modernisasi, sedangkan Keynesian merupakan manifestasi dari kapitalisme yang telah mencapai tahap dewasa yang intinya menghendaki campur tangan peemrintah dalam upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

6.    Paradigma Baru Dalam Pembangunan
Pertumbuhan (growth) tidak sama dengan pembangunan (development). Pertumbuhan ekonomi sarat dengan masalah-masalah pengangguran, kemiskinan di perdesaan, distribusi pendapatan yang timpang dan ketidakseimbangaan structural (Sjahrir dalam Kuncoro;2000:9). Fakta ini yang agaknya memperkuat keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan syarat yang diperlukan (necessary) tetapi tidak mencukup (sufficient) bagi proses pembangunan. Pertumbuhan ekonomi hanya mencatat peningkatan produksi barang dan jasa secara nasional, sedangkan pembangunan ekonomi berdimensi lebih luas dari sekedar peningkatan pertumbuhan ekonomi. Hal inilah yang menimbulkan pengkajian ulang tentang arti pembangunan sebagai pergerakan ke atas dari seluruh system social, pertumbuhan dengan perubahan (growth with change), terutama perubahan-perubahan nilai dan kelembagaan. Kondisi ini dilandasi argument adanya dimensi kualitatif yang jauh lebih penting disbanding pertumbuhan ekonomi. Hal inilah yang merupakan pemacu sekaligus pemicu munculnya paradigm baru dalam pembangunan ekonomi.
Paradigma-paradigma baru dalam pembangunan yang dimaksud adalah pertumbuhan dengan distribusi, kebutuhan pokok (basic needs), pembangunan mandiri (self reliant- growth), pembangunan berkelanjutan dengan perhatian terhadap alam (ecodevelopment), pembangunan yang memperhatikan  ketimpangan pendapatan menurut etnis (ethnodevelopment). Karena itu boleh dikatakan bahwa pembangunan harus dilihat sebagai proses yang multidimensi yang mencakup tidak hanya pembangunan ekonomi, namun juga mencakup perubahan-perubahan utama dalam struktur social, perilaku dan kelembagaan.

6. Manfaat Pembangunan Ekonomi
1.    Output kekayaan dari masyarakat akan bertambah
2.    Pilihan menjadi semakin luas
3.    Memberikan kemampuan yang lebih besar kepada manusia  untuk menguasai alam, dan akan dapat mempertinggi kebebasan manusia untuk mengadakan suatu tindakan tertentu.
4.    Dapat diperoleh suatu tambahan kebebasan untuk memilih kesenangan yang lebih luas. Dalam perekonomian yang masih primitif orang dipaksa untuk bekerja keras hanya untuk mempertahankan hidupnya untuk sekedar tidak mati.
5.    Idealnya untuk mengurangi gap antara yang kaya dan yang miskin, antara negara maju dan negara sedang berkembang.
6.    Memungkinkan orang untuk memikirkan lebih banyak sifat-sifat kemanusiaan oleh karena semakin banyaknya sarana yang tersedia. (Prayitno;1996:44).

II. INDIKATOR PEMBANGUNAN
Meier (1995:7) mengatakan bahwa pembangunan ekonomi adalah suatu proses dimana pendapatan perkapita suatu Negara meningkat selama kurun waktu yang panjang, dengan catatan bahwa jumlah penduduk yang hidup di bawah “garis kemiskinan absolute” tidak meningkat dan distribusi pendapatan tidak semakin timpang. Dengan mencermati pengertian tersebut, Kuncoro (2000:18) mengatakan maka indikator-indikator kunci pembangunan pada dasarnya dapat diklasifikasikan ke dalam : indikator ekonomi adalah GNP per kapita, laju pertumbuhan ekonomi, GDP perkapita dengan Purchasing Power Parity, sedangkan indikator social meliputi HDI (Human Development Index) dan PQLI (Physical Quality Life Index) atau Indeks Mutu Hidup

1. Indikator Ekonomi (indicator moneter)
■ Klasifikasi Negara-negara berkembang
Salah satu klasifikasi yang dibuat oleh Bank Dunia adalah :
1.    Negara-negara berpendapatan rendah ($675 atau kurang) pada tahun 1993.  low income economies.
2.    Negara-negara dengan pendapatan menengah ($ 675 – $ 8.355) pada tahun 1993  middle income economies. Kuncoro (2000:19)  memilah lagi menjadi lower middle income economies ($695-$2.785), upper middle income economies ($ >2785 – < $8.626).
3.    Negara-negara dengan pendapatan tinggi ($8.356  lebih) pada tahun 1993.  (Hakim;2002:22).
4.    Dunia (World) meliputi semua Negara di dunia termasuk Negara-negara yang datanya langka dan dengan penduduk kurang dari 1 juta jiwa (Kuncoro;2000:19).
Tahun 1993, World Bank memperkenalkan beberapa sebutan bagi beberapa Negara, yaitu :
1.    High Performaing Asian Economies (HPAEs): 1. The four Tigers (Hongkong, Korsel, Singapura, Taiwan), 2. Newly Industrializing Economies (NIEs) (Indonesia, Malaysia dan Thailand).
2.    Asia Timur mencakup semua Negara berpenghasilan  rendah dan menengah di kawasan Asia Timur dan Tenggara serta Pasifik.
3.    Asia Selatan mencakup Bangladesh, Bhutan, India, Myanmar, Nepal, Pakistan dan Srilangka.
4.    Sub-Sahara Afrika meliputi semua Negara dis ebelah selatan gurun Sahara termasuk Afrika Selatan, namun tidak termasuk Mauritius, Reunion dan Seychelles.
5.    Eropa,Timur Tengah dan Afrika utara mencakup Negara berpenghasilan menengah di kawasan Eropa (Bulgaria, Chekoslovakia, Yunani, Hungaria, polandia, Portugal, Rumania, Turki dan Bekas Yugoslavia) dans emua Negara di kawasan Afrika Utara dan timur Tengah, serta Afganistan.
6.    Amerika Latin dan karibia terdiri atas semua Negara Amerika dan karibia disebelah selatan Amerika serikat. (World Bank1993;dalam Kuncoro;2000;:22)

■ Pendapatan per Kapita .
Indikator ini paling banyak dipergunakan sebagai indikator dalam pembangunan ekonomi suatu Negara, selain itu juga dipakai untuk arena pembeda antara Negara maju dengan Negara Sedang Berkembang. Pendekatan ini memiliki kelemahan yaitu: 1. Indeks kesejahteraan hanya bersumber dari pendapatan perkapita. Maknanya bahwa tidak selamanya ukuran ini benar-benar mencerminkan kondisi seseorang. Masih banyak hal lain yang menentukan kesejahteraan seseorang, misalnya adalah kondisi geografis, iklim, kebebasan berpendapat dll. 2. Ada sebagian bidang pekerjaan yang sejatinya bila ditelisik lebih lanjut produktif tetapi terlewatkan tidak diperhitungkan dalam pendapatan nasional.3. Tidak  dipertimbangkannya perilaku penduduk, misalnya ada penduduk yang suka meluangkan waktu senggang (leisure time)  dan enggan untuk bekerja keras untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. 4. Pencapaian pembangunan ekonomi semakin banyak membutuhkan pengorbanan masyarakat. 5. Perhitungan ini mengabaikan adanya perbedaan-perbedaan antar Negara.
■ Indikator Kesejahteraan Ekonomi Bersih
Dilakukan dengan penyempurnaan nilai-nilai GNP yang dikenal dengan Net Economic Welfare (NEW). NEW dilakukan dengan dua cara yaitu koreksi Positif dan koreksi Negatif. Koreksi positif dilakukan dengan mencermati waktu senggang (leisure time) yaitu yang berkaitan dengan jumlah jam kerja dalam seminggu, dan perkembangan sektor informal. Waktu senggang ini bisa saja meningkat yang artinya adalah bahwa pendapatan perkapita menurun tetapi masyarakat merasa lebih sejahtera. Sedangkan sektor informal dipilah menjadi dua yaitu legal dan melawan hukum. Kegiatan legal tapi terluput dari perhitungan adalah kegiatan yang dilakukan sendiri dirumah dan kegiatan illegal misalnya adalah mereka yang berkecimpung dalam Black Market sehingga mereka terhindar dari pajak. Koreksi Negatif, berkaitan dengan masalah kerusakan lingkungan (misalnya penambangan pasir, galian batu kali, polusi udara), mestinya dikurangkan dalam perhitungan GNP untuk mendapatkan NEW.
■ GDP dengan Purchasing Power Parity
Perhitungan dengan GDP memiliki beberapa kelemahan dalam perhitungan pendapatan sebuah negara, karena kesemuanya diukur dalam satu mata uang yang sama. Untuk menetralsiir, maka dipergunakan PPP yang mencerminkan daya beli satu unit mata uang local untuk membeli barang dan jasa di negara yang bersangkutan, yang mungkin lebih rendah atau lebih tinggi daya belinya untuk membeli barang/jasa di negara lain pada kurs valas yang berlaku.

2. Indikator Sosial (indicator non moneter)
Indikator ini ini antara lain meliputi : tingkat harapan hidup, konsumsi protein hewani perkapita, % anak-anak yang belajar di sekolah dasar dan menengah, % anak yang sekolah di kejuruan, jumlah surat kabar, jumlah telepon, jumlah radio, % lelaki dewasa di sektor prtanian, % tenaga kerja yang bekerja di sektor listrik, gas, air, kesehatan, pengangkutan, pergudangan dan komunikasi, PDB yqng berasal dari industri pengolahan, konsumsi energi/kapita, konsumsi listrik/kapita, konsumsi baja/kapita, nilai perkapita perdagangan LN.
Kelemahan GNP sebagai ukuran kesejahteraan, diantaranya adalah tidak memasukkan produksi yang tidak melalui pasar seperti perekonomian subsisten, jasa ibu rumah tangga, pembantu rumah tangga, transaksi barang bekas, kerusakan lingkungan, sector informal, kerusakan lingkungan dan distribusi pendapatan. Karena itu muncul indikator lain sebagai pelengkap ataupun alternative dari indikator kesejahteraan/kemakmuran yang tradisional.
■  Indeks   Mutu  Hidup / Physical Quality Life Index  merupakan index komposit 3 indikator yaitu: harapan hidup pada usia satu tahun, angka kematian dan tingkat melek huruf.
■  Human Development Index  berdasarkan tiga indikator yaitu usia panjang yang diukur dari tingkat harapan hidup, 2. Pengetahuan yang diukur dari rata-rata tertimbang dari jumlah orang dewasa yang dapat membaca dan rata-rata tahun sekolah, 3. Penghasilan yang diukur dengan pendapatan perkapita riil menurut daya beli mata uang masing-masing Negara dan asumsi utilitas marginal penghasilan. Ada 3 kelompok HDI yaitu 1. low human development dengan nilai 0,0 hingga 0,50. 2. Medium human development dengan nilai 0,51 hingga 0,79 dan 3. Negara dengan nilai HDI tinggi/high human development diatas 0,80. Hitungan ini adalah secara relative bukan absolute, dan HDI memfokuskan pada tujuan akhir (usia panjang, pengetahuan dan pilihan material) pembangunan dan tidak sekedar alat pembangunan (hanya GNP perkapita). Indeks Kualitas Hidup/IKH atau Physical Quality of Life Index /PQLI, merupakan indeks gabungan dari  tingkat harapan hidup, angka kematian dan tingkat melek huruf. Tahun 1990 UNDP mengembangkan suatu indeks yang sekarang dikenal sebagai Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index = HDI). Indikator-indikator yang dipergunakan adalah : tingkat harapan hidup, tingkat melek huruf dan tingkat pendapatan riil perkapita berdasarkan daya beli masing-masing negara. HDI berkisar seputar 0 -1, dimana bila indeks semakin mendekati angka 1 berarti angka indeks pembangunan manusianya semakin tinggi. Dan yang terakhir adalah indeks campuran yang antar lain muatannya meliputi : pendidikan, kesehatan, perumahan, angkatan kerja, Keluarga Berencana dan fertilitas, Ekonomi (income perkapita), kriminalitas, perjalanan wisata, akses ke media massa.

■ Kesamaan Karakteristik Negara-negara Berkembang
Secara umum kesamaan yang bisa dijumpai diantara negara-negara berkembang adalah :
1.    Standar hidup yang rendah, hal ini disebabkan oleh pendapatan yang rendah, ketimpangan distribusi pendapatan yang tinggi, buruknya pelayanan kesehatan, sistem pendidikan yang tidak memadai.
2.    Produktivitas yang rendah, yang disebabkan oleh beberapa hal yaitu : 1. kekurangan input komplementer dalam proses produksi (akumulasi kapital), 2. Faktor kelembagaan kurang mendukung, 3. Kualitas kekuatan dan kesehatan fisik pekerja yang ikut memperlemah produktivitas kerja.
3.    Tingkat pertumbuhan penduduk dan beban ketergantungan yang tinggi.
4.    Angkatan Kerja dengan Skill yang rendah,Tingkat pengangguran Penuh dan Terselubung yang tinggi dan terus tumbuh.
5.    Ketergantungan terhadap produksi pertanian dan ekspor  barang-barang primer.
6.    Dominan, tergantung, dan rentan dalam hubungan internasional (Todaro:1994:38-54)
7.    Tingginya proporsi angkatan kerja disektor pertanian
8.    Ketidak cukupan teknologi dan Kapital
9.    Rendahnya Tingkat Tabungan
10.    Perekonomian Dualistik
11.    Ketergantungan yang bervariasi pada perdagangan internasional
12.    Tingginya proporsi ekspor produk primer
13.    Dominasi ketergantungan dan kerapuhan dalam Hubungan Internasional (Kuncoro;2000:20).

■ Keragaman Karakteristik Negara-negara Berkembang
Todaro dalam Hakim (2002) menggambarkan delapan komponen yang menjadi pembeda karakteritik antar negara :
1.    Ukuran dan tingkat pendapatan
2.    Latar belakang sejarah
3.    Karunia sumber daya fisik manusia
4.    Komposisi etnik dan agama
5.    Peran sektor pemerintah dan swasta
6.    Struktur industri
7.    Ketergantungan eksternal : ekonomi, Politik dan Kultural.
8.    Politik kekuasaan dan kelompok kepentingan. (Hakim;2002:37).

III. TEORI PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI
Arsyad (1999:45) menyebutkan bahwa untuk mengelompokkan teori-teori pertumbuhan dan pembangunan ekonomi didasarkan pada pertimbangan periode waktu lahirnya teori tesebut atau ide dari teori tersebut. Bahasan dalam buku ini adalah bersifat umum karena tidak semua teori bisa diungkap secara lengkap.

1.    Mazhab Historismus  melihat pembangunan berdasarkan perspektif sejarah, metode ini bersifat induktif empiris dengan tokoh-tokohnya adalah :
Friedrich List, menurut dia system liberalisme yang laisezz – faire dapat menjamin alokasi sumberdaya secara optimal. Perkembangan ekonomi tergantung pada peranan pemerintah, organisasi swasta dan lingkungan kebudayaan. Perkembangan ekonomi akan terjadi jika dalam masyarakat ada kebebasan dalam politik dan kebebasan perorangan, fungsi pemerintah disini adalah melindungi kepentingan golongan lemah diantara masyarakat. Pendekatan List perkembangan melalui 5 tahap yaitu tahap primitive, beternak, pertanian, pertanian dan industri pengolahan dan akhirnya pertanian, industri pengolahan dan perdagangan. Pendekaan List didasarkan pada cara berproduksinya.
Bruno Hildebrand, mengemukakan adanya evolusi dalam perekonomian masyarakat, dan perkembangan ekonomi didasarkan pada cara distribusi yang digunakan. Karena itu dia mengemukakan adanya tiga cara berdistribusi , yaitu : 1. Perekonomian Barter (natura), 2. Perekonomian uang. 3. Perekonomian Kredit.
Karl Bucher, pendapatnya merupakan sintesa dari dua terdahulu sehingga menurutnya perkembangan ekonomi melalui tiga tahap, yaitu : 1. produksi untuk kebutuhan sendiri (subsisten), 2.  perekonomian kota dimana pertukaran sudah meluas, 3. perekonomian nasional dimana pedagang semakin menjadi penting dalam geliat ekonomi.

Walt Whitman Rostow, teori pembangunan ekonominya sangat popular dan paling banyak mendapatkan komentar dari para pakar. WW Rostow (The Stages of Economic Growth / 1960) memilah pembangunan ekonomi bisa dibedakan menjadi 5 tahap, yaitu : 1. Masyarakat Tradisional (the traditional society), 2. prasyarat untuk tinggal landas (the preconditions for take-off), 3. tinggal landas (the take-off), 4. menuju kedewasaan (the drive to maturity), dan 5. masa konsumsi tinggi (the age of high mass- consumption). Dasar pembedaan yang dicuatkan Rostow adalah karekteristik perubahan keadaan ekonomi, sosial dan politik. Perubahan merupakan proses transformasi masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern dan merupakan proses yang multidimensional. Selain itu Rostow juga mengemukakan bahwa perubahan akan berdampak pada : 1. perubahan orientasi ke dalam bergeser pada orientasi ke luar, 2. NKKBS, 3. Perubahan pola Investasi, 4. Perubahan sikap hidup dan adat istiadat. Masyarakat tradisional adalah masyarakat yang fungsi produksinya terbatas dan ditandai oleh cara berproduksi  yang primitive yang didasarkan pada ilmu pra Newton dan cara hidup masyarakat yang masih sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai yang kurang rasional, tetapi kebiasaan tersebut telah turun temurun. (Lincolin;1999:48). Ciri-ciri masyarakat tradisional adalah : produktivitas perkapita yang rendah, sumberdaya masyarakat digunakan untuk sektor pertanian, struktur sosial masyarakat bersifat hierarkis, meski nuansa politik bersifat sentralistik namun kekuatan politik ada pada tuan-tuan tanah. Tahap Prasyarat Tinggal Landas merupakan kondisi dimana ditemukan/ditengarai dari  indikasi adanya perubahan dalam masyarakat baik dalam tatanan ekonomi, sosial dan budaya. Tahap ini masyarakatnya dalam masa transisi, dan masyarakat mencapai pertumbuhan atas kekuatan sendiri (self-sustained growth). Pada tahap ini , pertumbuhan ekonomi akan terjadi secara otomatis. Ciri-ciri masyarakat ini adalah : penerapan ilmu pengetahuan modern, munculnya entrepreneur, kenaikan investasi, perubahan radikal masyarakat dalam ilmu pengetahuan, perubahan teknik produksi dan pengambilan resiko. Selain itu peran sektor pertanian  memiliki peran penting dengan alasan kemajuan sektor ini akan menjamin pasokan bahan makanan, dan kenaikan sektor pertanian akan memperluas sektor industri. Ciri lainnya adalah terjadinya pembangunan sarana / infrastruktur secara besar-besaran. Tahap Tinggal Landas, pada tahap ini pertumbuhan ekonomi akan selalu terjadi. Pada awal tahap ini terjadi perubahan yang drastic dalam masyarakat seperti revolusi politik, inovasi, terbukanya pasar-pasar baru, peningkatan pendapatan nasional yang melebihi pertumbuhan penduduk, sehingga pendapatan perkapita meningkat. Selain itu kemampuan negara untuk menggali permodalan dalam negeri juga meningkat. Meski demikian teori ini mendapatkan respon berupa kritik diantaranya adalah tumpang tindihnya tahapan-tahapan yang ada, periode tahap tinggal landas yang meragukan dan adanya masyarakat yang tidak melalui tahapan tradisional. Tahap menuju kedewasaan, adalah suatu tahap dimana masyarakat sudah secara efektif menggunakan teknologi modern pada hampir semua kegiatan produksi. Tahapan ini akan terjadi pola pergeseran sektor mempimpin digantikan oleh sektor baru yang ditengarai oleh perkembangan teknologi, kekayaan alam dan kebijakan pemerintah yang mendukung proses peralihan tersebut. Tahap konsumsi tinggi, merupakan tahapan terakhir dari teorinya Rostow. Pada tahap ini konsentrasi masyarakat diarahkan pada konsumsi dan kesejahteraan masyarakat bukan lagi kepada masalah produksi. Negara yang berada pada posisi ini memiliki 3 macam tujuan yaitu : 1. memperbesar kekuasaan dan pengaruh luar negerinya, sehingga berorientasi pada liberalisme dengan format baru, menciptakan Negara kesejahteraan (welfare state) , 3. meningkatkan konsumsi masyarakat melebihi kebutuhan pokok menjadi meliputi barang-barang konsumsi tahan lama dan barang-barang mewah.

2.  Mashab Analitis  berusaha mengungkapkan proses pertumbuhan ekonomi secara logis dan taat asas (konsisten), tetapi sering bersifat abstrak dan kurang menekankan pada aspek empiris (historisnya). Kajiannya bersifat deduksi teoritis.

TEORI KLASIK
1.    Adam Smith (1723 – 1790)  seorang pelopor pembangunan ekonomi dan laissez faire dan pelopor dalam pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Ada dua aspek dalam pergumbuhan ekonomi yaitu pertumbuhan output total dan pertumbuhan penduduk. (Arsyad;1999:55). Bagi Smith potensi pasar bisa ditingkatkan bila warga masyarakat diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan pertukaran dan melakukan kegiatan ekonominya, sehingga Smith bisa juga dikategorikan sebagai penganjur free trade dan laissez faire. Jumlah penduduk menurut Smith akan meningkat bila upah diatas tingkat upah subsisten, artinya adalah bila upah diatas tingkat subsisten maka orang akan kawin muda, tingkat kematian menurun dan jumlah kelahiran meningkat. Tingkat upah ditentukan oleh kekuatan penawaran dan permintaan tenaga kerja. Upah yang tinggi akan terjadi bila permintaan tenaga kerja lebih besar ketimbang penawaran tenaga kerja. Permintaan tenaga kerja ditentukan oleh stok modal dan tingkat output masyarakat, karenanya laju permintaan tenaga kerja ditentukan oleh laju pertumbuhan stok modal.
2.    David Ricardo (1772 – 1823)  ada 4 perangkat teori yang dikembangkan Ricardo, yaitu : 1. nilai dan harga barang, 2. teori tentang distribusi pendapatan, 3. teori tentang perdagangan internasional dan 4. teori tentang akumulasi dan pertumbuhan ekonomi. Tema pertumbuhan ekonomi masih pada perpacuan antara pertumbuhan penduduk dan laju pertumbuhan output.

NEO KLASIK (SOLOW – SWAN)
Teori ini berkembang sejak tahun 1950-an, dan dasar teori ini berpijak pada aliran klasik. Ekonom pengembang teori ini adalah Robert Solow dan Trevor Swan. Teori klasik mengemukakan bahwa pertumbuhan ekonomi tergantung pada :
1.    Pertambahan penyediaan factor-faktor produksi,
2.    Tingkat kemajuan teknologi,
3.    Perekonomian akan selalu dalam keadaan full employment,
4.     Kapasitas peralatan modal akan tetap sepenuhnya digunakan sepanjang waktu
5.    COR bersifat luwes (output tertentu dicapai dengan kombinasi modal dan  tenaga     kerja)

Fungsi produksi ditunjukkan oleh I1, I2 dan seterusnya. Dalam fungsi produksi yang berbentuk demikian, suatu tingkat output tertentu dapat diciptakan dengan menggunakan berbagai kombinasi modal dan tenaga kerja. Misalnya untuk menciptakan output sebesar I1, kombinasi modal dan  tenaga kerja yang dapat digunakan antara lain (a) K3 dengan L3, (b) K2 deengan L2, dan (c) K1 dengan L1. Dengan demikian, walaupun jumlah modal berubah tetapi terdapat kemungkinan bahwa tingkat output tidak mengalami perubahan.

KEYNESIAN (HARROD DOMAR)
Teori ini merupakan perluasan dari analisis Keynes mengenai kegiatan ekonomi secara nasional dan masalah tenaga kerja. Dalam teori ini dikatakan bahwa antara modal dan tenaga kerja tidak bisa saling menggantikan. Teori ini, fungsi produksinya berbentuk L karena sejumlah modal hanya dapat menciptakan suatu tingkat output tertentu (modal dan tenaga kerja tidak substitutif). Teori ini menyempurnakan teorinya Keynes dengan menganalisis syarat-syarat yang dieprlukan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Dengan kata lain, teori ini berusaha menunjukkan syarat yang dibutuhkan agar perekonomian bisa tumbuh dan berkembang dengan mantap (steady growth). Assumsi yang dipergunakan dalam teori ini adalah :
1.    Perekonomian dalam keadaan full employment
2.    Perekonomian terdiri dari 2 sektor yaitu rumah tangga dan perusahaan, berarti pemerintah dan perdagangan luar negeri tidak ada.
3.    Tabungan masyarakat adalah proporsional dengan besarnya pendapatan nasional, berarti tabungan dimulai dari titik nol.
4.    MPS besarnya tetap.

Dalam teori Harold Domar tersebut, fungsi produksinya berbentuk L karena sejumlah modal hanya dapat menciptakan suatu tingkat output tertentu (modal dan tenaga kerja tidak substitutif). Untuk menghasilkan output sebesar Q1 diperlukan modal K, dan tenaga kerja L, dan apabila kombinasi itu berubah maka tingkat output berubah. Untuk output sebesar Q2, misalnya hanya dapat diciptakan jika stok modal sebesar K2.

STRATEGI PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN EKONOMI

Sebagaimana diketahui bersama bahwa jebakan vicious cycle of poverty membuat negara sedang berkembang berada pada posisi pendapatan perkapita yang rendah. Jalan keluar dari kebuntuan ini adalah dengan melakukan upaya minimum krisis (critical minimum effort) tertentu yang dapat menaikkan pendapatan perkapita pada tingkat dimana pembangunan yang berkesinambungan (sustainable) akan terjadi. (Arsyad;1999:81), sehingga  Negara berkembang bisa tumbuh secara mantap dalam jangka panjang (steady state economic growth). Leibenstein menyatakan bahwa laju pertumbuhan penduduk ditentukan oleh laju pendapatan perkapita dengan fungsi atau bentuk hubungan khusus, yang secara sederhana bisa dibagi dalam :
 Tahap pertama atau tahap subsisten. Pada tahap ini laju pendapatan perkapita, kelahiran dan kematian berada dalam suatu keseimbangan.
 Tahap kedua. Pada tahap ini terjadi kenaikan pendapatan perkapita yang akan menyebabkan turunnya tingkat kematian (karena tingkat kesehatan meningkat) tetapi tanpa disertai dengan penurunan tingkat kelahiran (anak banyak masih merupakan hal penting) sehingga tingkat penduduk mengalami peningkatan.
  Tahap ketiga. Pada tahap ini kenaikan tingkat pendapatan perkapita sudah tidak lagi meningkatkan jumlah penduduk karena orang sadar bahwa membesarkan banyak anak berbiaya mahal sehingga orang lebih menyukai keluarga kecil. Pada tahap ini pertumbuhan penduduk akan terkoreksi. Setelah tahap ketiga ini pertumbuhan tingkat pendapatan perkapita tidak lagi diikuti oleh kenaikan tingkat pertumbuhan penduduk, atau pertumbuhan ekonomi akan mengikuti jalur pertumbuhan mantap dalam jangka panjangnya.  (Hakim;2002:116).
Kesimpulannya adalah bahwa bila sebuah Negara ingin bisa mencapai jalur pertumbuhan seimbang jangka panjangnya, harus dilakukan upaya pembangunan dengan dorongan yang besar untuk meningkatkan pendapatan perkapita pada tingkat tertentu yang bisa meningkatkan pertumbuhan penduduk sampai dengan tingkat 3 persen, kemudian terus meningkatkan pertumbuhan pendapatan perkapitanya mengikuti jalur pertumbuhan seimbang jangka panjang. Upaya inilah yang oleh Leibstein disebut sebagai upaya minimum krisis. Dasar pemikiran ini dilandasi oleh kondisi ekonomi tertentu yang menguntungkan sehingga kekuatan pendorong lebih  cepat daripada kekuatan laju kekuatan penghambat pendapatan. Dalam proses ini diperlukan adanya agen-agen pertumbuhan, yang dimaksud sebagai agen pertumbuhan disini merupakan kapasitas yang terkandung di dalam anggota masyarakat untuk melakukan kegiatan yang membantu pertumbuhan. Agen pertumbuhan yang khas adalah pengusaha, investor, penabung dan innovator.
Rangsangan Pertumbuhan
Apakah agen pertumbuhan berkembang atau tidak, tergantung pada hasil yang diharapkan dari kegiatan dan pada rangsangan untuk pengembangan atau penyusutan melalui interaksi antara harapan, kegiatan dan hasil. Rangsangan yang dimaksud ada dua yaitu :
1.    Rangsangan Zero-sum yang tidak meningkatkan pendapatan nasional tetapi hanya bersifat upaya distributive.
2.    Rangsangan positive – sum yang menuju pada pengembangan pendapatan nasional.

Secara kasat mata, bisa dikatakan bahwa positive – sum lah yang menghasilkan pembangunan ekonomi. Namun dengan kondisi NSB adalah sedemikian rupa sehingga para pengusaha terlibat pada kegiatan zero sum. Kegiatan tersebut mencakup :
1.    Kegiatan bukan dagang untuk menjamin posisi monopolistic yang lebih besar, kekuatan politik dan prestise sosial.
2.    Kegiatan dagang yang membawa ke posisi monopolistic yang lebih besar yang tidak menambah sumber daya sumber daya agregat.
3.    Kegiatan spekulatif  yang tidak memanfaatkan tabungan tetapi memboroskan sumber-sumber kewiraswastaan yang langka
4.    Kegiatan yang memang memakai tabungan netto, tetapi investasi yang dilakukannya mencakup bidang-bidang usaha yang nilai sosialnya nihil atau lebih rendah ketimbang nilai privatnya.

Ada beberapa paradigma yang terjadi di NSB, sehingga ada pengaruh tertentu yang bersifat anti perubahan yang cenderung menekan pendapatan perkapita. Pengaruh-pengaruh tersebut adalah :
1.    Kegiatan zero sum yang berusaha untuk memeprtahankan hak-hak istimewa ekonomi yang ada melalui pembatasan peluang-peluang ekonomi yang memiliki potensi berkembang.
2.    Tindakan conservative para buruh yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir yang ditujukan untuk menentang perubahan.
3.    Perlawanan terhadap gagasan dan pengetahuan baru dan daya tarik pengetahuan klasik dan gagasan lama.
4.    Kenaikan pengeluaran konsumsi mewah pribadi atau public yang pada dasarnya tidak produktif yang menggunakan sumber-sumber yang sejatinya dapat dipergunakan untuk akumulasi modal.
5.    Pertumbuhan penduduk dan pertumbuhan angkatan buruh yang ditimbulkannya yang dengan hal-hal lain tetap sama mempunyai pengaruh menipiskan modal yang tersedia per pekerja.

Karena itulah diperlukan suatu upaya minimum kritis yang cukup besar guna menopang laju pertumbuhan ekonomi yang cepat yang akan menggairahkan rangsangan positive sum dan menciptakan kekuatan untuk menandingi kegiatan  zero sum. Hasil dari upaya minimum kritis itu diharapkan pendapatan perkapita naik dan cenderung menaikkan tingkat tabungan dan investasi, yang pada gilirannya akan membawa perubahan adalah :
1.    ekspansi agen pertumbuhan
2.    meningkatkan sumbangan modal
3.    berkurangnya factor-faktor penghambat pertumbuhan
4.    kondisi lingkungan yang mendukung mobilitas ekonomi dan sosial
5.    peningkatan spesialisasi dan perkembangan sektor sekunder dan tersier

Strategi Pembangunan Seimbang
Strategi lainnya adalah strategi pembangunan seimbang yang diartikan sebagai pembangunan berbagai jenis industri secara berbarengan (simultaneous) sehingga industri tersebut saling menciptakan pasar bagi yang lain. Selain itu istilah tersebut bermakna adanya keseimbangan pembangunan di berbagai sektor. Misalnya antara sektor industri dan pertanian, sektor luar negeri dan sektor dalam negeri , sektor produktif dan sektor prasarana dengan demikian semua sektor akan tumbuh bersama.

Untuk mewujutkannya , diperlukan keseimbangan antara penawaran dan permintaan. Sisi penawaran menekankan pada pembangunan serentak dari semua sektor yang saling berkaitan dan berfungsi meningkatkan penawaran barang, yang mencakup pembangunan serentak dan harmonis dari barang setengah jadi, bahan baku, sumberdaya energi, pertanian, pengairan, transportasi serta semua industri yang memproduksi barang konsumen.

Dari sisi permintaan, berhubungan dengan penyediaan kesempatan kerja yang lebih besar dan penambahan pendapatan agar permintaan barang  dan jasa dapat tumbuh. Sisi penawaran ini berkaitan dengan industri yang sifatnya saling melengkapi, industri barang konsumen, khususnya produk pertanian dan industri manufaktur.

Pembangunan seimbang ini biasanya dilaksanakan dengan maksud untuk menjaga agar proses pembangunan tidak menghadapi hambatan-hambatan dalam :
1.    perolehan bahan baku, tenaga ahli, sumberdaya energi (air dan listrik), dan fasilitas fasilitas untuk mengangkut hasil-hasil produksi ke pasar.
2.    memperoleh pasar untuk barang-barang yang telah dan yang akan diproduksikan.

Dengan demikian, pembangunan seimbang dapatlah didefinisikan sebagai usaha pembangunan yang berupaya untuk mengatur program investasi sedemikian rupa sehingga sepanjang proses pembangunan tidak akan timbul hambatan-hambatan yang bersumber dari penawaran dan permintaan. Jika pembangunan seimbang dilaksanakan, maka tingkat investasi yang harus dilakukan besarnya jauh melebihi tingkat investasi yang dilakukan sebelum usaha pembangunan dilakukan. Hal inilah yang disebut sebagai teori dorongan besar-besaran (big push theory).
Rosenstein-Rodan mengatakan bahwa pembangunan secara besar-besaran akan menciptakan 3 macam eksternalitas ekonomi (jasa-jasa yang diperoleh dengan Cuma-Cuma dari satu atau beberapa industri lainnya), yaitu :
1.    yang diakibatkan oleh perluasan pasar
2.    karena industri yang sama letaknya berdekatan
3.    adanya industri lain dalam perekonomian tersebut. (Arsyad;1999:91)

Kelemahan strategi pembangunan berimbang : 1.  sulit untuk menghimpun modal sebagai pendorong pembangunan seimbang dalam waktu serentak, 2. mengabaikan sektor pertanian, 3. mengabaikan kondisi NSB yang kekurangan sumberdaya, 4. menciptakan eksternalitas disekonomis (misalnya menghancurkan tata cara kerja msayarakat sehingga berdampak pada kurangnya penghargaan terhadap hal-hal yang sifatnya tradisional), 5. di NSB masih langka entrepreneur sejati.

STRATEGI PEMBANGUNAN TIDAK SEIMBANG
Pola ini dianggap yang paling tepat untuk Negara-negara berkembang. Pembangunan tidak seimbang ini didasari oleh pertimbangan-pertimbangan :
1.    Secara histories pembangunan ekonomi yang terjadi coraknya tidak seimbang
2.    Untuk mempertinggi efisiensi penggunaan sumberdaya-sumberdaya yang tersedia.
3.    pembangunan tidak seimbang akan menimbulkan kemacetan (bottlenecks) atau gangguan-gangguan dalam proses pembangunan tetapi akan mendorong pembangunan-pembangunan selanjutnya.

Jika diamati, proses pembangunan yang terjadi antara dua periode waktu tertentu akan tampak bahwa berbagai sektor memang memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda yang berarti pula bahwa pembangunan berjalan secara tidak seimbang. Perkembangan sektor memimpin akan merangsang perkembangan sektor lainnya, begitu juga perkembangan industri akan mendorong perkembangan industri-industri yang lainnya.

Hirchman mengklasifikasikan industri-industri sehubungan dengan apakah pendirian industri-industri tersebut akan mendorong investasi lebih jauh pada industri yang lain atau tidak. Dia melakukannya dengan memperkenalkan konsep keterkaitan ke depan dan kebelakang (forward and backward linkage). Sebuah industri dikatakan mempunyai keterkaitan ke depan yang kuat jika dia bisa mendorong timbulnya industri industri baru dengan menggunakan outputnya(misalnya industri peleburan baja akan mendorong terjadinya perusahaan pembuat mesin, suku cadang kendaraan bermotor, atau kerangka cendela/pintu baja). Keterkaitan ke belakang terjadi ketika investasi dalam sebuah industri memberikan peningkatan lebih jauh pada investasi di industri yang mensuplai inputnya. Contohnya pabrik minuman kemasan dianggap sebagai industri yang pertama muncul di LDCs, menciptakan permintaan botol, tutup botol dan juga transportasi untuk pengiriman minuman.

PERENCANAAN PEMBANGUNAN EKONOMI

Fungsi Perencanaan
1.    Adanya pedoman dan pengarahan bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan.
2.    Dapat dilakukan suatu perkiraan potensi-potensi, prospek-prospek perkembangan, hambatan serta resiko yang mungkin dihadapi pada masa yang akan datang.
3.    Memberikan kesempatan untuk mengadakan pilihan yang terbaik.
4.    Bisa melakukan skala prioritas pada segi pentingnya tujuan.
5.    Sebagai alat untuk mengukur atau standart mengadakan pengawasan dan evaluasi.

Dari sudut pandang ekonomi, fungsi perencanaan adalah :
1.    Agar penggunaan alokasi penggunaan sumber-sumber pembangunan yang terbatas bisa lebih efisien dan efektif sehingga daapt dihindari adanya pemborosan-pemborosan.
2.    Agar perkembangan dan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih mantap
3.    Agar tercapai stabilitas ekonomi dalam menghadapi siklus konjungtur

Bagi Negara berkembang, perencanaan pembangunan ekonomi diarahkan untuk meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, hal ini dilakukan dengan cara meningkatkan pendapatan, tabungan dan investasi. Karena akumulasi capital mengalami kesulitan berkaitan dengan jebakan kemiskinan yang tidak berujung pangkal, maka perlu adanya pembangunan yang berencana. Untuk keluar dari jebakan lingkaran kemiskinan tadi ada dua cara yang bisa dilakukan, yaitu :
1.    Melakukan pembangunan yang terencana dengan mencari modal dari luar negeri yang disebut sebagai industrialisasi yang diproteksi.
2.    Menghimpun tabungan wajib yang disebut industrialisasi dengan kemampuan sendiri.

Dasar pemikiran perencanaan pada NSB adalah :
1.    Untuk memperbaiki dan memperkuat mekanisme pasar
2.    Keinginan untuk mengurangi pengangguran
3.    Untuk mensinergikan sektor pertanian dengan sektor industri
4.    Pembangunan infrastruktur sesuai dengan kebutuhan
5.    Mendorong pertumbuhan dan pengembangan lembaga  keuangan sebagai penunjang pertumbuhan ekonomi.

PERENCANAAN DALAM EKONOMI KAPITALIS/Arsyad p. 121
Perencanaan dilakukan dengan tujuan mencapai pertumbuhan ekonomi dengan tingkat pengerjaan yang tinggi dan harga-harga yang stabil melalui berbagai instrument kebijaksanaan fiscal dan moneter. Sifat perencanaannya berupa simultan atau rangsangan terhadap pihak swasta untuk melakukan aktivitas ekonomi kearah tertentu. Alat kebijaksanaan utama yang digunakan adalah terutama kebijakan di bidang moneter, perpajakan dan hubungan perdagangan luar negeri. Tingkat pengerjaan dan pendapatan yang tinggi disebabkan oleh adanya kebijakan ekspansi moneter, peningkatan pengeluaran pemerintah dan penyesuaian tariff pajak. Inflasi dan deflasi diatasi melalui kebijakan-kebijakan fiscal, penyesuaian tingkat bunga. Gejolak neraca pembayaran  dinetralisir melalui penyesuaian tariff, pengendalian devisa, kuota impor serta perangsang pajak. Kelemahan system ini adalah : 1. Rencana pemerintah berpotensi gagal jika tidak direspon oleh pihak swasta, 2. Bila mekanisme harga berjalan tidak baik bisa mengakibatkan terjadinya kelangkaan barang/jasa.

PERENCANAAN DALAM  EKONOMI SOSIALIS
Pemerintah secara aktif dan langsung mengendalikan gerak perekonomian melalui suatu proses  pengambilan keputusan yang terpusat/sistem komando. Dalam system ini tidak ada kebebasan konsumen maupun produsen untuk menentukan konsumsi atau produksi  barang/jasa yang diinginkannya. Proses produksi, konsumsi dan distribusi sepenuhnya ditentukan oleh pemerintah. Kelemahan system ini adalah 1. ada kecenderungan korupsi pada level perencana, 2. bisa terjadi kelangkaan barang, 3. hilangnya motivasi dari masyarakat karena segala sesuatunya sudah ditentukan oleh pemerintah pusat dan 4. biayanya sangat mahal. Dengan demikian perbedaan mendasar dari ekonomi kapitalis dan sosialis adala rangsangan versus  pengendalian (inducement vs control).

PERENCANAAN DALAM PEREKONOMIAN CAMPURAN
Perencanaan dalam perekonomiann campuran biasanya dilakukan di NSB. Perekonomian campuran bercirikan adanya suatu lingkungan kelembagaan dimana sebagian dari sumberdaya produktif dimiliki dan dikelola, sedangkan sebagian lainnya dimiliki oleh pemerintah. Kelemahan pada perencanaan perekonomian campuran adalah 1. sumberdaya yang terbatas, 2. sistem administrasi yang belum tertib dan 3. kelembagaan yang belum memadai. Besarnya kepemilikan antara sektor pemerintah dan swasta berbeda antara Negara satu dengan Negara  lainnya. Sektor swasta dalam perekonomian campuran biasanya terdiri dari 3 bentuk kepemilikan individu yang berbeda, yaitu :
1.    sektor tradisional yang subsisten
2.    perusahaan-perusahaan kapitalis ukuran menengah
3.    perusahaan asing dan perkebunan berskala besar yang terutama sekali melayani pasar luar negeri.
SUMBER-SUMBER PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN
1.    Sumber dana dari dalam negeri
2.    Sumber dana dari luar negeri

Sumber Tabungan
Yang dimaksud dengan tabungan disini adalah semua sumber pembiayaan investasi. Dalam suatu Negara, tabungan merupakan gabungan dari tabungan domestic dan tabungan asing. Tabungan domestic terdiri dari tabungan pemerintah dan tabungan swasta. Tabungan pemerintah terdiri dari tabungan sisa anggaran atau tabungan budgeter dan tabungan perusahaan milik pemerintah. Tabungan budgeter adalah penerimaan pemerintah dikurangi dengan belanja pemerintah. Belanja pemerintah adalah semua belanja pemerintah ditambah dengan pengeluaran untuk kepentingan militer, gaji PN dan polisi, pembangunan, pembelian minyak dan senjata, pemeliharaan infrastruktur atau membayar pinjaman utang LN. perusahaan-perusahaan pemerintah secara umum hanya sedikit menyumbang pada tabungan pemerintah sehingga S relative kecil.

Tabungan domestic swasta juga muncul dari dua sumber yaitu tabungan perusahaan dan tabungan rumah tangga. Tabungan perusahaan swasta didefinisikan sebagai laba perusahaan ditahan (pendapatan perusahaan setelah pajak dikurangi deviden yang dibagikan kepada pemegang saham). Tabungan rumah tangga adalah pendapatan keluarga yang tidak dikonsumsi. Tabungan rumah tangga meliputi juga tabungan-tabungan dari perusahaan non korporasi (perusahaan kecil yang tidak berbadan hukum). Justru di Negara berkembang yang terakhir inilah yang dominant.

Tabungan asing juga terdiri dari dua bentuk dasar, yaitu tabungan asing pemerintah atau disebut sebagai bantuan asing, dan tabungan asing swasta (yang terdiri dari tabungan komersial eksternal /pembiayaan utang dan investasi asing langsung/pembiayaan ekuitas.
Tabungan Domestik
1. Tabungan Pemerintah
Tabungan merupakan suatu keharusan untuk pembiayaan pembangunan dengan alasan, pertama, pertumbuhan tabungan swasta selalu terkendala oleh rendahnya pendapatan perkapita dan kecenderungan tingginya konsumsi pada keluarga kaya dan kedua adalah terbatasnya suplai tabungan asing. Peningkatan Tabungan pemerintah lebih disebabkan karena kelebihan total peneriman pemerintah (terutama pajak) terhadap belanja konsumsi public, dan tabungan pemerintah hanya menyumbang dalam jumnlah yang sangat sedikit. Karena itu dalam peningkatan pajak, pemerintah mengambil kebijakan intensifikasi dan ekstensifikasi. Hanya yang perlu diperhatikan adalah bahwa pajak yang lebih tinggi akan menghasilkan tabungan yang lebih tinggi hanya jika tingkat kecenderungan marginal mengkonsumsi (MPC) pemerintah atas pajak lebih kecil dari MPC sektor swasta atas pendapatan mereka. Di negara berkembang, MPC pemerintah terhadap pajak ternyata cukup tinggi sehingga kenaikan pajak justru menurunkan tabungan domestic. Fenomena ini dikenal sebagai efek Please karena diselidiki oleh Stanley Please.

2. Tabungan Domestik Swasta
Meski kecil namun tabungan domestic swasta memiliki peran yang cukup besar pada Negara berkembang dalam mendanai investasi. Sebagaimana diketahui bahwa tabungan swasta berasal dari tabungan rumah tangga dan tabungan perusahaan.

Tabungan  Rumah Tangga
Sejatinya tabungan rumah tangga di Negara berkembang sangat rendah karena rendahnya pendapatan perkapita dan tingginya kecenderungan berkonsumsi. Dissaving adalah suatu hal yang biasa. Namun diantara mereka ada kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan yang tinggi. Mereka adalah kaum pedagang, tuan tanah dan para bangsawan. Kekayaan mereka jarang ditanamkan dalam investasi produktif, lebih banyak untuk dibelanjakan barang mewah, ditimbun dalam bentuk emas permata atau dipinjamkan dalam jangka pendek dengan tingkat bunga yang tinggi.
Diantara mereka pun ada segelintir petani yang banyak jumlahnya. Dengan pendapatan yang sama mereka menabung lebih banyak ketimbang para buruh yang bekerja di kota. Petani hidup hemat karena hidup mereka dekat dengan bencana, dan tabungan mereka bertambah juga karena kiriman dari kota atau luar negeri.
Selain petani ada juga kelas penerima upah yang diindentikkan dengan kelas menengah, juga merupakan sumber tabungan. Namun tabungan mereka relative sedikit mengingat MPC mereka tinggi dan sedikit dari pendapatan mereka dipergunakan untuk belanja barang-barang sekunder. Tabungan  mereka tidak lebih dari sekedar menunda konsumsi sehingga tidak begitu besar jumlahnya.

Tabungan Perusahaan
Tabungan perusahaan di Negara berkembang relative kecil dan biasanya terbentuk dari perusahaan non korporasi. Sebagian perusahaannya adalah skala menengah. Secara individual perusahaan-perusahaan tersebut tidak akan menyisihkan banyak tabungan. Meski demikian secara kelompok mereka menyumbang lebih dari 50% dari tabungan domestic Negara berkembang.

Strategi Peningkatan Pembentukan Kapital/Hakim 174.
 Dorongan pasar bebas : Mekanisme Klasik
 impor Kapital
 Eksploitasi Sumber Daya Menganggur
 Bujukan Moral
 Perbaikan dalam sistem pajak
 Pengembangan lembaga keuangan
 Meningkatkan kesempatan investasi
 Pembiayaan local atas investasi sosial
 Pembiayaan Inflasioner
Sumber Dana Luar Negeri
Mengapa diperlukan dana dari LN?
Kendala-kendala dalam pembangunan diantaranya adalah :
1.    keterbatasan skill
2.    gap tabungan
3.    gap devisa
Kendala kedua dan ketiga membutuhkan aliran dana dari luar negeri. Dengan bantuan luar negeri dimaksudkan untuk menyamakan laju pertumbuhan investasi dan tabungan (atau pun laju pertumbuhan ekspor dan impor) sehingga diharapkan negara bisa berhenti meminjam dan membangun dengan modal sendiri.

Sumber dan Pengguna Dana LN
Dana-dana LN bisa berupa bantuan LN, kiriman uang dari LN, pinjaman bank-bank swasta asing dan investasi dari LN. bantuan LN bersumber dari pemerintah-pemerintah Negara asing. Bantuan tersebut bisa berasal dari pemerintah asing, bisa juga dari lembaga-lembaga internasional, bisa bilateral maupun multilateral. Berikutnya adalah pinjaman dari bank-bank komersial dengan tingkat bunga yang tinggi dan jangka waktu peminjaman yang pendek. Sumber yang lainnya adalah investasi luar negeri bisa berupa investasi portofolio, bisa juga berupa investasi langsung. Pinjaman ke negara-negara berkembang dianggap sebagai bantuan asing jika mengandung elemen :  kemudahan-kemudahan dibanding jika ia meminjam ke bank-bank komersiel. Kemudahan itu bisa berupa : 1. tingkat bunga yang rendah, 2. periode pembayaran yang lebih lama dan 3. grace period (periode dari saat dana tersebut diberikan sampai kewajiban mengangsur pertama kali). Tidak kalah pentingnya adalah kiriman dari warga negara yang bekerja di Negara lain (remittances) dan juga kredit ekspor.

Pengguna dana luar negeri adalah negara-negara yang sedang membangun, namun bukan berarti negara-negara maju tidak pernah menikmati dana asing. Pasca PD II banyak Negara yang hancur di segala bidang termasuk negara-negara di Eropa Barat dan Timur serta Amerika.

Sifat-sifat bantuan asing
 keras dan lunak
 mengikat dn tidak mengikat
 berbentuk proyek dan program

Ada satu bentuk khusus dari bantuan asing adalah bantuan teknis atau bantuan kerja sama. Sasarannya adalah untuk membentuk tenaga ahli dan lembaga-lembaga pendukung akselerasi. Bentuknya bisa berupa pengiriman tenaga ahli di bidang tertentu ke Negara-negara berkembang, pendidikan/training bertempat di Negara donor. Ada fenomena baru dalam bantuan teknis yaitu munculnya beberapa lembaga internasional non pemerintah, yang ikut menjadi fasilitator bantuan teknis tersebut. Kenyataannya ada beberapa permasalahan berkaitan dengan bantuan teknis tersebut, yaitu : 1. bantuan kadang-kadang tidak sesuai dengan kondisi negara penerima, 2. pengiriman pakar asing ke Negara penerima donor biasanya membutuhkan biaya yang besar karena mereka meminta bayaran yang tinggi dan fasilitas yang tinggi, 3. tidak semua pakar adalah pengajar yang baik, terutama bila sudah berkaitan dengan kendala bahasa.

Sasaran dan Tujuan Bantuan Asing
Sasaran bantuan asing adalah Negara berkembang yang kecil jumlahnya, yang biasanya diarahkan untuk membangun sarana dan prasarana, sekolah, kesehatan, perumahan. Namun bisa juga bantuan tersebut dimaksudkan untuk menolong penduduk dari musibah. Namun tidak juga menutup kemungkinan bahwa seruan moral hanyalah pemancing belaka, karena tidak sedikit dari Negara pendonor menginginkan adanya ekspansi politik, ekonomi maupun militer. Selain itu banyak yang mengkritisi bahwa bantuan tersebut diinvestasikan ke proyek-proyek berskala besar karena lebih mudah adminstrasinya. Dengan demikian, maka teknologi yang diadopsipun juga teknologi tinggi yang padat capital, dengan kata lain kesempatan kerja untuk Negara berkembang sangat kecil kemungkinannya. Dugaan lainnya adalah bahwa bantuan asing justru akan menurunkan tabungan domestic karena dengan adanya bantuan asing, peran tabungan tergantikan oleh bantuan asing tersebut  (meski bersifat semu). Kritik lainnya mengatakan bahwa bantuan asing hanya menimbulkan inefisiensi dan sarang korupsi.

Keuntungan Dengan Adanya Bantuan Asing
1.    menutup gap tabungan dan devisa
2.    menyediakan barang/jasa yang penting untuk produksi domestic
3.    Menyediakan teknologi yang diperlukan untuk peningkatan produktivitas
4.    Mendorong munculnya teknologi yang tepat dengan mengadopsi teknologi mereka.
5.    Menutup kekurangan dalam kewirausahaan
6.    Meningkatkan akses ke bank, pasar dan sumber daya alam di luar negeri
7.    Menyediakan kesempatan kerja kihususnya skill labor
8.    Melatih manajer dan teknisi domestic
9.    Memunculkan penerimaan berbagai macam pajak
10.    Meningkatkan efisiensi
11.    Meningkatkan pendapatan nasional

Kerugian Dengan Adanya Bantuan Asing
1.    Meningkatkan ketergantungan teknologi negara berkembang terhadap Negara-negara asing.
2.    negara donor sangat membatasi transfer paten, rahasia perusahaan dan pengetahuan teknis karena dipandang sebagai ancaman
3.    Meningkatkan konsentrasi di wilayah terentu
4.    menghambat kewirausahaan dan investasi local di infant industry
5.    memperkenalkan produk dengan teknologi dan pola konsumsi yang tidak sesuai dengan kondisi setempat
6.    Meningkatkan pengangguran (yang unskill labor)
7.    Mempertajam gap pendapatan karena beberapa perusahaan asing diproteksi oleh pemerintah sehingga pesaing domestic dirugikan dan pendapatannya menurun.
8.    sering terjadi manipulasi pajak dengan mempertinggi biaya investasi, dampak lanjutannya adalah menurunnya penerimaan pemerintah dari pajak.
9.    bersifat reciprocal demand
10.    bisa berdampak pada perolehan devisa karena terjadinya repatriasi dana dalam jumlah yang besar, keuntungan, royalty dan fee manajerial dan jasa-jasa.
Dengan kondisi semacam itu, yang terpenting adalah memperkuat bargaining power (posisi tawar) pada Negara-negara berkembang agar tidak terlalu terjebak bantuan asing yang berkedok pada peningkatan moralitas di Negara berkembang.

.

MASALAH PENGANGGURAN
Pembangunan ekonomi di Negara-negara Eropa Barat dan Amerika Utara sering dideskripsikan sebagai transfer manusia dan aktivitas ekonomi secara terus menerus dari daerah perdesaan ke perkotaan. Hal ini dimungkinkan karena kombinasi dua factor, yaitu:
1.    ekspansi industri perkotaan yang menimbulkan penciptaan kesempatan kerja baru
2.    kemajuan teknologi yang bersifat menghemat tenaga kerja (labor saving) di sektor pertanian sehingga menurunkan kebutuhan angkata kerja di daerah perdesaan.
Atas dasar pengalaman itulah, maka banyak pakar pembangunan yang menyimpulkan bahwa pembangunan ekonomi di dunia ketiga perlu menitik beratkan pada promosi pertumbuhan sektor industri perkotaan yang cepat. Mereka cenderung melihat perkotaan sebagai pusat-pusat pertumbuhan. Sayangnya strategi industrialisasi yang cepat, di banyak kasus gagal membawa dampak yang diinginkan. Karena itu bagi NSB dihadapkan pada kondisi unik dari kombinasi  permalahan pergerakan penduduk dari desa menuju ke kota dalam jumlah besar, stagnannya produk pertanian dan meningkatnya pengangguran dan underemployment di daerah perkotaan dan perdesaan.

Bagaimana kondisi di Indonesia?
Jelas sebagaimana dengan kondisi negara-negara berkembang lainnya, masalah penganguran merupakan masalah yang tidak akan ada habisnya untuk dibicarakan. Dan pengangguran ini pun juga tidak hanya menimpa/dialami Negara berkembang, namun di Negara maju pun belum ada rumusan yang pasti bagaimana menanggulangi pengangguran secara tepat, yang bisa hanyalah mengurangi jumlah pengangguran yang ada.

Macam-macam Pengangguran
1.    Voluntary unemployment
2.    Disguised unemployment
3.    Deflationary unemployment
4.    Frictional unemployment
5.    Technological unemployment
6.    Seasonal unemployment
7.    Cyclical unemployment

•    voluntary unemployment adalah pengangguran yang terjadi karena adanya orang yang sebenarnya masih dapat bekerja, tetapi dengan sukarela tidak bekerja.
•    Disguised unemployment adalah pengagguran yang terjadi karena pekerja yang bekerja menekan produktivitas pekerja yang lainnya.
•    Deflationary unemployment, yaitu pengangguran yang terjadi karena jumlah buruh yang ingin bekerja lebih banyak ketimbang pekerjaan yang tersedia.
•    Frictional unemployment, yaitu pengangguran yang terjadi karena adanya gap antara skill dengan kebutuhan yang diinginkan atau karena adanya kesalahan penempatan orang yang salah di tempat yang salah sehingga menggeser tenaga kerja manusia yang lain.
•    Technological unemployment, adalah pengangguran yang terjadi bilamana ratio modal dengan tenaga kerja dalam bidang produksi menunjukkan tendensi yang bertambah (kemajuan teknologi menggeser peran manusia dalam mengerjakan pekerjaan).
•    Seasonal unemployment, yaitu pengagguran yang terjadi karena pengaruh musim.
•    Cyclical unemployment, pengangguran yang terjadi karne perubahan-perub ahan dalam konjungtur.

Selain macam-macam pengangguran tersebut, ada lagi jenis pengangguran sebagaimana berikut :
1.    Pengangguran Terbuka (open unemployment) adalah  jumlah tenaga kerja yang sedang mencari pekerjaan, baik yang sebelumnya pertama kali mencari pekerjaan maupun yang pernah bekerja sebelumnya.
2.    Setengah Pengangguran (underemployment) adalah pekerja yang masih mencari pekerjaan  penuh atau sambilan dan mereka yang bekerja dengan jam kerja rendah (di bawah sepertiga jam kerja normal, atau berarti bekerja kurang dari 35 jam dalam seminggu) namun masih mau meenrima pekerjaan, serta mereka yang masih mencari pekerjaan namun masih mau menerima pekerjaan.
3.    Pengangguran Parah (severe underemployment) , adalah pengangguran yang setengah menganggur dengan jam kerja kurang dari 25 jam seminggu.

Dari fenomena yang ada, justru pengangguran terbuka merupakan fenomena yang dominant di daerah perkotaan, dengan komposisi 3 kali lipat ketimbang di daerah perdesaan. Dan bila ditelisik lebih mendalam lagi maka komposisi pengangguran ini didominasi oleh :
1.    pengangguran didominasi oleh kaum muda dengan usia antara 15 – 19 tahun (13%), 20-24 tahun (14%). Kedua kelompok usia ini mendominasi hamper 70% dari pengangguran total.
2.    tingkat pengangguran tertinggi menurut jenis pendidikan dialami oleh lulusan SMA dan Perguruan Tinggi yang masing-masing sebesar 16,9 %dan 14,8%.
3.    45% pekerja perdesaan berada dalam kondisi menganggur yang berarti lebih tinggi ketimbang pekerja perkotaan.

Untuk mengurangi tingkat pengangguran yang ada maka bisa dilakukan dengan kebijakan moneter ekspansioner, dimana kebijakan ini dimaksudkan untuk menstimulir investasi swasta. Bilamana usaha-usaha  tersebut tidak berhasil maka tetap akan dihadapi adanya gap deflasioner. Dalam kondisi yang demikian maka pemerintah dapat mengintroduksi kebijakan pajak dan kebijakan pengeluaran pemerintah, agar perekonomian mencapai full employment yang stabil. Sebaliknya bila terjadi gap inflasioner maka dalam hal ini pemerintah dapat menjalankan program kredit kontraksioner yang ditujukan kearah memperkecil gap inflationer. Bila usaha-usaha tersebut tetap tidak berhasil, maka pemerintah bisa menaikkan tingkat pajak serta program-program untuk menurunkan pengeluaran pemerintah.

Kebijakan moneter : (Jinghan 370), manfaatnya :
1.    mendapatkan dan mengambil manfaat  dari struktur tingkat suku bunga yang paling sesuai.
2.    meraih perimbangan yang kuat antara permintaan dan penawaran uang.
3.    menyediakan fasilitas kredit yang tepat bagi perekonomian yang sedang berkembang dan menghentikan perkembangan yang tidak semestinya, dan juga penyaluran kredit kepada para pengguna sesuai dengan investasi yang direncanakan sebelumnya.
4.    pendirian, pelaksanaan dan perluasan lembaga keuangan
5.    menajemen utang

Kebijaksanaan Fiskal, tujuannya adalah
1.    untuk meningkatkan laju investasi
2.    untuk mendorong investasi optimal secara sosial
3.    untuk meningkatkan kesempatan kerja
4.    untuk meningkatkan stabilitas ekonomi ditengah ketidakstabilan internasional
5.    untuk menanggulangi inflasi
6.    untuk meningkatkan dan meredistibusikan pendapatan nasional

Dari segala ragam kebijakan fiskal, maka pajak dianggap sebagai piranti yang paling efektif. Hal ini mengingat arti pentingnya pajak adalah :
1.    pajak merupakan piranti yang paling penting dalam mengendalikan pengeluaran, karena biasanya bila terjadi kenaikan pendapatan, masing-masing individu cenderung untuk meningkatkan konsumsinya.
2.    untuk meningkatkan penerimaan pemerintah, sekaligus sebagai piranti untuk mempergiat tabungan
3.    merupakan cara paling efisien untuk mentransfer sumber kepada pemerintah agar digunakan lebih produktif
4.    untuk memperbaiki pola investasi di dalam perekonomian
5.    untuk mengurangi jurang perbedaan antara si kaya dan si miskin
6.    untuk memobilisasi surplus ekonomi dan secara terus menerus memperbesar surplus tersebut

Selain pajak, ada sumber lain untuk menggalang modal yaitu pinjaman public. Pinjaman ini lebih baik ketimbang pajak karena pinjaman public ini sifatnya sukarela sedangkan pajak sifatnya memaksa. Tidak pernah ada orang yang dengan sukarela/ikhlas membayar pajak karena ia tidak pernah merasa memperoleh balas jasa atas pembayaran pajaknya tersebut, sedangkan orang yang meminjamkan modal biasanya distimulir oleh adanya balas jasa dari peminjaman modal tersebut.

Pinjaman dari masyarakat sebagai tindakan anti inflasioner dilakukan dengan cara memoblisasi uang surplus yang ada di tangan masyarakat, mengalihkannya dari jalur-jalur tidak produktif ke saluran yang produktif. Namun untuk Negara-negara berkembang pinjaman public terbatas karena lingkaran kemiskinan yang tidak berujung pangkal. Karena itu perlu upaya-upaya tertentu, yaitu : 1. Sosialisasi yang lebih intens mengenai arti pentingnya menabung, 2. adanya jaringan perantara untuk menarik tabungan dari masyarakat, 3. didirikannya bursa saham yang terorganisir dengan baik (perubahan nama menjadi Bursa Efek Indonesia) dan 4. meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kredibilitas pemerintah dalam bidang politik dan keuangan (ekonomi)

PERANAN PENGELUARAN NEGARA
DI DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

Jinhan (2002:398) menyatakan bahwa secara logis, kebanyakan perusahaan swasta enggan untuk melakukan investasi di bidang yang rentan dan tidak cepat menghasilkan. Dalam kondisi yang demikian, pembangunan ekonomi yang cepat hanya dimungkinkan melalui pengeluaran Negara. Oleh kaena itu menjadi kewajiban Negara untuk menciptakan  infrastruktur yang diperlukan bagi kemajuan. Negara memiliki sumber keuangan yang lebih besar dan berada dalam posisi yang memungkinkan untuk melancarkan overhead sosial  (pendidikan, kesehatan msyarakat, perumahan murah) dan ekonomi yang memerlukan jangka waktu persiapan lama.  Peranan belanja Negara dalam pembangunan ekonomi terletak dalam peningkatan :
•    laju pertumbuhan ekonomi (dimaksudkan untuk menjamin keseimbangan antara penawaran dengan permintaan untuk mencegah kecenderungan inflasioner)
•    penyediaan kesempatan kerja (dimaksudkan untuk mengurangi jumlah pengangguran yang semakin meningkat)
•    peningkatan pendapatan dan standar kehidupan (lihat program pemerintah mengenai operasi pasar minyak goring, beras miskin, JPS, IDT, meskis ebagian ternyata tidak tepat sasaran)
•    penurunan kesenjangan pendapatan dan kemakmuran
•    mendorong inisiatif dan usaha swasta (dengan deregulasi dan debirokratisasi)
•    mewujudkan keseimbangan regional di dalam perekonomian

PEMBANGUNAN  REGIONAL DAN SEKTORAL
1. Pembangunan Daerah
Pengertian Daerah
1.    Suatu daerah dianggap sebagai ruang di mana kegiatan ekonomi terjadi di dalam berbagai pelosok ruang tersebut terdapat sifat-sifat yang sama (kesamaan diantaranya dari pendapatan perkapitanya, sosial budayanya, geografisnya). Daerah semacam ini disebut sebagai daerah homogen.
2.    Suatu daerah dianggap sebagai suatu ekonomi ruang yang dikuasai satu atau beberapa pusat kegiatan ekonomi. Daerah semacam ini disebut sebagai daerah nodal.
3.    Suatu daerah adalah suatu ekonomi ruang yang berada dibawah satu administrasi tertentu seperti propinsi, kabupaten, kecamatan dan sebagainya. Jadi daerah disini berdasarkan pada pembagian administrasi suatu negara. Daerah dalam pengertian ini dinamakan daerah perencanaan atau daerah administrasi. (Arsyad;1999:297)

Pengertian Pembangunan Ekonomi Daerah
Adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola sumberdaya-sumnberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintahd aerah denga sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut.

Ada beberapa permasalahan pokok  yang bisa dicuatkan dalam pembangunan ekonomi daerah, yaitu :
 pemberdayaan kekhasan daerah (endogenous development) dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan dan sumberdaya fisik secara local (daerah).
    pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses, yaitu suatu proses yang mencakup pembentukan institusi-institusi baru, pembangunan indstri alternative, perbaikan kapasitan tenaga kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih ilmu penetahuan dan pengembangan eprusahaan-perusahaan baru.
    Tujuan utama dalam pembangunan ekonomi daerah adalah meningkatkan jumlah dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah.

Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Daerah
Meski dikatakan tidak ada satu teoripun yang komprehensif dalam pembangunan daerah, namun ada beberapa teori yang secara partial dapat membantu untuk meningkatkan pemahaman terhadap pembangunan ekonomi daerah. Intinya adalah bahwa dalam pembangunan daerah membahas mengenai dua hal, yaitu :
1.    Metoda untuk menganalisis perekonomian suatu daerah
2.    Teori yang membahasas tentang factor-faktor yang menentukan pertumbuhan suatu daerah tertentu.

Memang menganalisis perekonomian suatu daerah bukan pekerjaan yang mudah, karena sebab-sebab berikut :
 Data daerah sangat terbatas
 Data yang tersediaan kadang-kadang tidak sesuai dengan data yang dibutuhkan
 Data tentang perekonomian daerah sangat sulit untuk dikumpulkan
 Bagi NSB,   data  yang  ada kadang-kdang tidak sesuai dengan fakta yang ada (sulit dipercaya)

Beberapa Teori Pertumbuhan dan Pembangunan Daerah
1.    Teori Basis Ekonomi (Economic Base Theory).
Teori ini menyatakan bahwa factor penentu utama pertumbuhan ekonomi suatu daerah adalah berhubungan langsung dengan permintaan akan barang dan jasa dari luar daerah. Fenomena inilah yang akan menimbulkan penciptaan peluang kerja (job creation).
2.    Teori Lokasi
Ada tiga factor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi daerah yaitu lokasi, lokasi dan lokasi. Maknanya adalah perusahaan akan memilih lokasi yang memaksimumkan peluangnya untuk mendekati pasar. Tentu saja lokasi ini juga harus disinergikan dengan upah tenaga kerja, biaya energi, ketersediaan pemasok, komunikasi, fasilitas pendidikan dan latihan, kualitas pemerintah daerah dan tanggungjawabnya dan sanitasi.
3.    Teori Tempat Sentral (Central Place Theory)
Setiap tempat sentral didukung oleh sejumlah tempat yang lebih kecil yang menyediakan sumberdaya (indstri dan bahan baku). Tempat sentral tersebut  merupakan suatu pemukiman yang menyediakan jasa-jasa bagi penduduk daerah yang mendukungnya.
4.    Teori Kausasi Kumulatif
Kekuatan-kekuatan pasar cenderung memperparah kesenjangan antara daerah-daerah maju dengan terbelakang. Daerah-daerah maju mengalami akumulasi keunggulan kompetitif dibanding daerah-daerah lainnya, dan inilah yang oleh Myrdal disebut sebagai backwash effects (semua perubahan untuk daerah-daerah yang dirugikan yang timbul karena adanya ekspansi ekonomi dari suatu daerah). Kebalikannya adalah spread effect (yaitu pengaruh menguntungkan karena adanya ekspansi ekonomi suatu daerah ke daerah sekitarnya). Jika suatu daerah mengalami perkembangan maka perkembangan tersebut akan membawa dampak ke daerah yang lainnya. Yang jelas pasti akan ada perbedaan, dan bila perbedaan antara kedua daerah tersebut semakin menyempit berarti terjadi imbas yang baik (trickling down effects). Bila perbedaan antara kedua daerah tersebut semakin jauh berarti terjadi proses pengkutuban (polarization effects).
5.    Model Daya Tarik.
Teori ini didasari oleh adanya fenomena bahwa suatu masyarakat dapat memperbaiki poisisi pasarnya terhadap indutrialis melalui pemberian subsidi dan insentif.
Paradigma Baru Teori Pembangunan Ekonomi Daerah
KOMPONEN    KONSEP LAMA    KONSEP BARU
Kesempatan Kerja

Basis Pembangunan

Aset-aset Lokasi
Sumberdaya

Pengetahuan    Semakin banyak perusahaan = semakin banyak peluang kerja

Pengembangan setor ekonomi

Keungulan Komparatif didasarkan pada asset fisik

Ketersediaan Angkatan Kerja     Perusahaan harus mengembangkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisi penduduk daerah

Pengembangan lembaga-lembaga ekonomi baru.

Keunggulan kompetitif didasarkan pada kualitas lingkungan

Pengetahuan sebagai pembangkit ekonomi

Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah
Adalah perencanaan untuk memperbaiki penggunaan sumberdaya-sumberdaya public yang tersedia di daerah tersebut dan untuk memperbaiki kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai sumberdaya-sumberdaya swasta secara bertanggungjawab. Pada perencanaan ini harus melibatkan sektor swasta, petani, pengusaha kecil, koperasi, pengusaha ebsar, organisasi-organisasi sosial. Kesemuanya adalah unsure-unsur yang komprhensif dan berinteraksi satu dengan yang lainnya.

Manfaat Perencanaan Pembangunan Daerah
Dalam memformulasikan rencana pembangunan daerah, tidak bisa dilakukan secara mandiri dalam arti yang murni. Bagaimana pun campur tangan peemrintah masih tetap diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah akibat-akibat buruk dari mekanisme pasar terhadap pembangunan daerah serta menjaga agar pembangunan dan hasil-hasilnya dapat dinikmati berbagai daerah yang ada. Hanya permasalahannya adalah sejauh mana campur tangan tersebut?

Menjawab pertanyaan ini didasarkan pada beberapa kondisi daerah masing-masing yang memiliki beberapa karakteristik, dan sebagai bahan pertimbangan adalah :
 perbedaan tingkat pembangunan
 perbedaan tingkat kesejahteraan

Bila proses perekonomian diserahkan kepada mekanisme pasar, akibat-akibat yang kurang menguntungkan adalah :
 daerah miskin akan mengalami kesulitan dalam membangun sektor  industrinya dan memperluas kesempatan kerja. Penduduk akan semakin cepat berkembang dan berdampak pada semakin rendahnya pendapatan perkapita, dan efek dominonya adalah semakin banyaknya pengangguran.
 daerah-daerah miskin akan sulit merubah struktur ekonominya yang tradisional, sehingga akan bisa ke pertanian.
  terjadinya perpindahan penduduk ke daerah yang lebih maju terutama tenaga kerja yang masih muda.

Bagi daerah maju pada awal terjadinya ekspansi memang menikmati banyak keuntungan, namun pada akhirnya akan mengalami kesulitan-kesulitan juga yaitu :
  Karena daerah maju harus menampung penduduk dari daerah miskin, lama kelamaan daerah tersebut akan menjadi terlalu padat (congested) sehingga membebani pemerintah untuk semakin memperbesar pengeluaran untuk menciptakan karena public yang dibutuhkan masyarakat.
 Daerah-daerah ini akan menghadapi masalah sosial akibat dari perkembangannya, seperti masalah polusi, kerawanan keamanan, pemukiman, sanitasi, kesehatan dan sebagainya.

EKONOMI PEMBANGUNAN
(DIKTAT UNTUK LINGKUNGAN SENDIRI)

DIRANGKUM OLEH :

SUDJILAH, DRA., SE., ME., Dr.

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI INDONESIA (STIMI)
MALANG
MARET
2010

Leave a Reply

*
Copyright © 2014 — blogku | Site design by Trevor Fitzgerald